Tampilkan postingan dengan label Ramalan Jayabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramalan Jayabaya. Tampilkan semua postingan

Ramalan Datangnya Virus Corona 2019 (Covid'19) Menurut Jangka JayaBaya

 


WABAH Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 telah melumpuhkan dunia, tak terkecuali Indonesia. Tapi tahukah Anda bahwa kelumpuhan dunia, yang kemudian ternyata disebabkan oleh Covid-19, telah diramalkan oleh Jayabaya sembilan abad lampau?

Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmeswara Madhusudana Watarandita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana adalah Raja Kediri, Jawa Timur, yang memerintah tahun 1135-1157. Jayabaya dikenal sebagai raja yang membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Jayabaya bukan sekadar raja, melainkan juga seorang pujangga dan peramal ulung di zamannya. Banyak perstiwa yang terjadi di dunia dan Indonesia yang kemudian terkait atau dihubung-hubungkan dengan ramalan atau “jangka” Jayabaya, termasuk dengan model “othak athik gathuk”.

Jayabaya adalah raja yang “waskita” atau tajam intuisinya, dan “weruh sakdurunge winarah” (tahu sebelum diajarkan). Kesaktian Jayabaya dalam meramal kemudian diteruskan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873), pujangga Kasunanan Surakarta, yang juga pujangga besar terakhir Tanah Jawa.

Sedikitnya ada sembilan ramalan Jayabaya yang dalam kacamata orang Indonesia, terutama Jawa, terbukti kebenarannya, seperti kemunculan kereta api, pesawat terbang, radio/televisi, suksesi kepemimpinan di Indonesia, di mana yang menjadi presiden adalah nama-nama yang di dalamnya ada suku kata “no to na go ro”, serta zaman edan yang kemudian ditulis Ranggawarsita dalam “Serat Kalatidha”.

Benarkah ramalan-ramalan Jayabaya, termasuk kelumpuhan dunia, terbukti kebenarannya? Wallahu a’lam bisawab, hanya Allah SWT yang maha tahu.

Local Wisdom

Jangka Jayabaya adalah “local wisdom” atau kearifan lokal masyarakat Indonesia, sebagaimana dunia barat yang lebih dulu maju dan modern masih mempercayai ramalan Michel de Nostredame atau Nostradamus (1503-1566), astrolog asal Perancis, Alvin Toffler (1928-2016), penulis dan futurolog asal Amerika Serikat, John Naisbitt (1929-sekarang), penulis dan futurolog asal AS, dan sebagainya. Soal terbukti kebenarannya atau tidak, sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu.

Jangankan jangka Jayabaya, ramalan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menggunakan metodologi ilmiah saja tidak selalu terbukti akurasinya, apalagi Jayabaya yang hanya mengandalkan ketajaman intuisi.

Soal kelumpuhan dunia, meski tidak disebut secara spesifik akibat pandemi Corona, konon hal tersebut sudah diramalkan Jayabaya akan terjadi pada tahun kembar, yakni 2020 yang angka-angkanya memang kembar.

Disebutkan, “sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu jamane langgar bubar, mesjid korat-karit, Kabah ora kaambah, begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha keluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga” yang artinya kurang lebih, “besok bila bertemu tahun kembar maka akan bertemu masanya surau atau musala bubar, masjid tidak teturus, Ka’bah tidak dikunjunjungi, penjahat lepas, manusia meninggal tidak diurus sebagaimana mestinya, rakyat kecil kelaparan, dan para pejabat/petugas bekerja sampai lupa keluarga”.

Memang, demi mencegah penyebaran virus Corona yang lebih luas, negara-negara yang terpapar menerapkan lockdown (penutupan wilayah) atau minimal physical distancing (jaga jarak fisik), social distancing (jaga jarak sosial) dan work from home (WFH). Adapun Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mensyaratkan physical/social distancing serta WFH tadi.

Efeknya, ibadah umat beragama tidak boleh dilaksanakan di musala, masjid, gereja, kelenteng, pura, wihara dan sebagainya, tetapi dilaksanakan di rumah masing-masing.

Arab Saudi juga menutup sementara Ka’bah atau Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta melarang ibadah umrah ke Ka’bah, termasuk jemaah dari Indonesia.

Begajul padha ucul? Untuk mencegah penularan virus Corona, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yasonna H Laoly membebaskan lebih dari 36 ribu narapidana dengan asimilasi dan integrasi. Sekeluar dari penjara, banyak yang mengulang kembali perbuatan jahatnya.

Kawula cilik padha keluwen? Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada yang menyebut korban PHK akibat Corona mencapai tujuh juta pekerja, termasuk yang dirumahkan.

Itu belum termasuk pekerja informal seperti pedagang kaki lima, sopir angkutan, tukang ojek, kuli bangunan dan sebagainya.

Akibatnya, rakyat kecil banyak yang kelaparan. Pemerintah kemudian membagikan bantuan sosial kepada masyarakat yang paling terdampak Corona.

Betapa banyak pula pejabat dan tenaga medis seperti dokter dan perawat yang tidak sempat menengok keluarganya gara-gara merawat pasien Corona, bahkan banyak yang meregang nyawa. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang merupakan sahabat penulis, dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto tak luput dari paparan Corona dan sempat dirawat di rumah sakit.

Ironisnya, bansos yang dibagikan pemerintah ada yang memicu kericuhan karena datanya amburadul dan banyaknya warga miskin yang tidak kebagian.

Ditambah dengan data kasus Corona yang simpang-siur antara versi pemerintah, kampus dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maka kepercayaan publik terhadap pemerintah nyaris ke titik nadir. Termasuk data asal-usul virus Corona, apakah sengaja diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok, atau berasal dari kelelawar dan trenggiling yang kemudian menjangkiti tubuh manusia dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Inilah yang oleh Jayabaya dan Ranggawarsita disebut “kalatidha” atau zaman keraguan. Tak ada yang bisa dipercaya.

Berkelindan dengan perilaku manusia yang kian tak terkontrol, maka zaman ini layak disebut zaman edan seperti digambarkan dalam bait ketujuh “Serat Kalatidha”, sebagai berikut:

“Amenangi jaman édan Mélu ngédan nora tahan
Yén tan mélu anglakoni boya kéduman
Begja-begjaning kang édan
Luwih begja kang éling klawan waspada.”

Artinya, “Berada pada zaman édan; kalau ikut édan tidak akan tahan; tapi kalau tidak ikut édan, tidak akan kebagian. Sebahagia-bahagianya orang yang édan, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.”

Alhasil, dalam menghadapi pandemi Corona, dan kelumpuhan dunia yang sudah dinisbatkan oleh Jayabaya ini, kita harus tetap ingat kepada Tuhan YME dengan berdoa memohon ampunan dan pertolongan-Nya, serta waspada dengan mematuhi aturan pemerintah terkait PSBB dan protokol kesehatan terkait Corona. Badai pasti berlalu.>> oleh. Dr Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan Anggota DPR RI, Tinggal di Jakarta.

<ref. https://suaramerdeka.news/corona-dan-jangka-jayabaya/>>

Ramalan Jangka Jayabaya Tentang Peristiwa Tahun Kembar 1212 Sampai Tahun Kembar 2020

 


Wolak-walik ing jaman dan jongko Joyoboyo berlaku secara matematis yakni selalu dimulai pada angka tahun khusus yang tidak bisa dibolak-balik atau jika diwolak-walik akan sama saja jumlah angka hasilnya periodisasi berulang tiap seratus satu tahun yakni jatuhnya pada tahun kembar dua digit dan dimulai sejak abad kedua belas -- seratus tahun sejak masa kehidupan sang nujum itu sendiri hidup di abad kesebelas.

"wolak-walik ing jaman" berupa peristiwa besar yang terjadi pada abad keduabelas dalam "jongko Joyoboyo" di tahun kembar pertama jatuh pada 1212 yakni peristiwa besar tampilnya seorang rakyat jelata bernama Arok mulai memimpin pasukan untuk menyerang Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. dan juga kerajaan Kediri. Dalam sejarah peristiwa di abad keduabelas itu merupakan kudeta pertama di Nusantara. Arok kelak marak sebagai seorang raja bergelar Sri Rajasa dan sebagai pendiri dinasti Majapahit.

Jongko Joyoboyo di tahun kembar kedua 1313 wolak-walik ing jaman yang besar ialah terjadinya peristiwa serangan pasukan Majapahit yang dipimpin Gajahmada terhadap para sahabat Raden Wijaya yang memberontak terhadap Majapahit tatkala Raden Wijaya wafat dan digantikan oleh Kala Gemet. Gajahmada kelak marak sebagai mahapatih Majapahit.

Tahun kembar ketiga 1414 Majapahit dilanda perang paregreg, musuh-musuh Majapahit dibantu oleh Cheng Ho yang mendarat dari kapal-kapal mewah berangkat dari Tiongkok tiba pertama kali di Jawa di wilayah Semarang. Cheng Ho juga menyebarkan Islam, mengakibatkan semakin cepat Majapahit yang beragama Hindu-Buddha meluncur menuju masa keruntuhannya. Dan mulailah berdiri kerajaan Islam pertama di Jawa yakni Demak.

Tahun kembar keempat 1515 terjadi kedatangan bangsa Portugis dan berhasil berkuasa di Malaka, mereka mulai bersiap-siap menyerang pulau Jawa. Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor atau Patiunus.yang berusaha mengusir Portugis dari Malaka dengan mengirimkan armada kapal perang gabungan Demak-Majapahit-Banten-Aceh ke wilayah yang diduduki oleh Portugis di Selat Malaka yang sangat strategis jalur laut penting kapal yang menuju wilayah Nusantara. Armada gabungan tersebut gagal merebut Malaka dari tangan Portugis yang lebih unggul dari segi teknologi kapal dan persenjataan di kapal.

Tahun kembar kelima 1616 baru beberapa tahun marak sebagai raja, Sultan Agung ing Ngalogo dari kerajaan Mataram mulai menyusun pasukan dan kekuatan militer lainnya untuk mengusir Belanda dari wilayah Batavia. Serangan Mataran terhadap Batavia 1628-1629 tidak berhasil mengusir Belanda dari Batavia. Sultan Agung sudah mengerahkan semua kekuatan pasukan darat dan lautnya kira-kira duaratus ribu pasukan.

Tahun kembar keenam 1717 terjadi peristiwa Untung Suropati yang terus bertahan terhadap serangan Belanda hingga akhirnya Untung Suropati tewas di benteng pertahanannya di daerah Bangil. Perjuangan pasukan Untung Suropati terus dilanjutkan dengan menggabungkan diri bersama pasukan dari Surabaya dan bersama-sama menahan pasukan penakluk Belanda yang datang dari wilayah Mataram Jawa Tengah. Belanda tetap unggul karena lebih unggul dalam hal persenjataan dan strategi perangnya.

Tahun kembar ketujuh 1818, perang Jawa meletus, seorang pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap Belanda. Belanda memang sedang mengadakan serangan penaklukan di seantero penjuru Nusantara dalam rangka menyatukan wilayah Nusantara yang tunduk takluk pada pemerintah Hindia Belanda yang sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan berbagai macam produk yang sangat dibutuhkan di pasar Eropa.

Tahun kembar kedelapan 1919 terjadilah revolusi Oktober di Rusia dan untuk pertama kalinya berdiri sebuah negeri sosialis yang berideologi marxist-leninis/ komunis. Di Hindia Belanda Baars, Snevliet adalah yang pertama memperkenalkan ajaran sosialisme atau marxisme dan mendirikan ISDV pada sekitar tahun kembar tersebut. Muara daripada ISDV adalah Partai Kamunis Indonesia yang hanya dalam dua tahun sejak berdiri mampu mengorganisir pemberontakan di Sumatera Timur yang banyak terdapat perkebunan luas milik swasta dan pemerintah Hindia Belanda.

Jongko Joyoboyo yang paling dekat dari 2010 saat ini adalah yang akan dimulai pada tahun kembar kesembilan 2020. Tekone wolak-walik ing jaman dan tekone jaman Joyoboyo atau jongko Joyoboyo sudah lengkap segala sesuatu yang menjadi pertandanya. Tanda-tanda yang disebutkan di awal tulisan ini sudah lunas dan lengkap terbukti semuanya. Maka yang seharusnya bakal terjadi ialah peristiwa besar paling dahsyat atau stadium tingkat lanjut pada masa kesembilan Jongko Joyoboyo di masa wolak-walik ing jaman kali ini.

Peristiwa besar di tahun kembar mendatang adalah berhentinya wolak-walik ing jaman, atau terhentinya jaman terbalik-balik menjadi jaman baru, perubahan itu dapat terjadi setelah terjadi sesuatu peristiwa Yang Maha Besar.

Ada pun skenario lainnya yakni terus bersinambungnya Jongko Joyoboyo menuju masa kesepuluh, dan itu berarti terus berlanjutnya masa "wolak-walik ing jaman" untuk seratus tahun mendatang. Dan itu artinya penderitaan manusia golongan tertentu di jaman terbalik-balik dan membingungkan akan berlanjut terus.

TANSAH ELING LAN WASPODO (Selalu Ingat dan Waspada)

(Mari sama sama berdoa kepada yang maha Kuasa semoga Negeri Indonesia selalu Dalam LindunganNya).>>>
<<Ref. Satu>>


Melihat Kembali Ramalan Jayabaya Yang Belum Pernah Dibahas



Sri Aji Joyoboyo disebut memiliki ratusan ramalan soal masa depan Nusantara. Dia meramal Nusantara dari masa runtuhnya Kerajaan Kediri hingga sekarang. Di antara ratusan itu, ada beberapa ramalan yang sering dikaitkan dengan peristiwa di Tanah Air.

Ramalan-ramalan tersebut adalah Murcaning Noyogenggong Sabdopalon, Semut Ireng Anak-anak Sapi, Kebo Nyabrang Kali, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol, Pitik Tarung Sak Kandang, Kodok Ijo Ongkang-ongkang, Tikus Pithi Anoto Baris dan Reinkarnasi Noyogenggong Sabdo Palon.

Sejarawan sekaligus pemerhati budaya dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Heri Priyatmoko mengatakan, munculnya kepercayaan akan ramalan Joyoboyo berasal dari kebiasaan masyarakat Jawa yang sering menghubungkan sesuatu peristiwa dengan ucapan para pujangga pendahulu alias otak-atik gathuk. "Kadang orang Jawa itu berangkat dari kebiasaan otak-atik gathuk, tetapi sesuai dengan realitas sosial saat itu.


Heri mencontohkan ramalan yang menyebut 'Pithik jago tarung sak kandang' (Ayam jantan berkelahi satu kandang). Ramalan itu sebenarnya adalah isyarat dari para pujangga waktu itu agar masyarakat mewaspadai akan adanya ancaman disintegrasi atau perpecahan bangsa.

Istilah 'Pithik jago tarung sak kandang', kata Heri, kemudian sering dihubungkan dengan terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S).

Berikut ini adalah makna ramalan Joyoboyo yang Kita bahas :

*Murcaning Noyogenggong Sabdopalon
Sejarawan sekaligus pemerhati budaya dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Heri Priyatmoko mengatakan, Noyogenggong dan Sabdo Palon ini adalah semacam tokoh Semar dalam lakon Mahabharata versi Jawa. Dalam versi Mahabharata India sosok Semar tak dikenal.

Noyogenggong, kata Heri, adalah simbol penasihat alias pendamping seorang raja yang dalam kisah pewayangan dikenal dengan Punokawan. "Noyogenggong itu semacam Semar dalam Mahabharata versi Jawa. Semar bersama Punokawan itu berperan menasihati, mengkritis atau menyentil juragannya ketika juragannya melakukan kesalahan.

Dalam versi modern, Noyogenggong ini bisa diibaratkan dengan para menteri anggota kabinet pembantu Presiden.

*Semut Ireng Anak-anak Sapi
Ramalan Joyoboyo soal tentang 'Semut Ireng Anak-anak Sapi' sering dihubungkan dengan kedatangan bangsa Eropa, yakni Portugis dan Belanda menjajah Indonesia. Orang Eropa berkulit putih terkenal rajin dan ulet bekerja seperti semut hitam. Mereka juga selalu meminum susu sapi sejak bayi.

Pada tahun 1293 hingga sekitar tahun 1500-an terjadi persaingan teknologi maritim antara Majapahit dengan negara-negara di benua Eropa. Saat itu bangsa-bangsa Eropa melakukan modernisasi kapal-kapal laut mereka antara lain dengan bantuan Marcopolo dan Christophorus Columbus, dua penjelajah samudera asal Italia.

Majapahit juga tak mau kalah. Di bawah mahapatih Gadjah Mada, Majapahit memiliki angkatan laut tanggung yang dipimpin Empu Nala. Majapahit dan dan sejumlah negara di benua Eropa seperti berlomba membangun kekuatan maritim.

Namun perpecahan yang terjadi pasca lengsernya Raja Hayam Wuruk membuat bangsa-bangsa Eropa bisa dengan mudah masuk dan menguasai Nusantara. Majapahit tak mampu menghadapi bangsa kulit putih yang datang menjajah.

*Kebo Nyabrang Kali
Masyarakat sering menghubungkan ramalan Joyoboyo tentang 'Kebo Nyabrang Kali' dengan peristiswa mengungsinya pemerintahan kerajaan Belanda ke Inggris. Saat mengungsi mereka menyeberangi Selat Channel. Ini bermula ketika Eropa terjadi krisis ekonomi pada tahun 1292.

Tahun 1933 Adolf Hitler yang memimpin Nazi menggerakkan Jerman untuk membangun kekuatan militer besar-besaran. Lima tahun kemudian kekuatan Nazi memang menjadi yang terkuat di Eropa. Jerman pun berhasil menaklukkan Prancis, Belanda dan Belgia. Tak kuat berada dalam bayang-bayang pasukan Hitler, pemerintahan kerajaan Belanda pun mengungsi ke Inggris, menyeberangi Selat Channel.

Di versi lain, 'Kebo Nyabrang Kali' diartikan sebagai dibawanya kekayaan Nusantara oleh
bangsa asing ke luar negeri.

*Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol
Ada juga ramalan yang selama ini juga dipercaya milik Joyoboyo yang berbunyi, "si kate cebol seumur jagung panguwasane (si pendek kate hanya akan berkuasa seumur jagung)" versi lain menyebut 'Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol'.

Ramalan ini diartikan bahwa bangsa Jepang hanya akan menjajah Indonesia seumur jagung, tak akan lama. Seperti diketahui, pasukan Jepang mendarat di Indonesia pada 8 Maret 1942. Tentara dari Negeri Sakura itu terusir dari Indonesia 3,5 tahun kemudian tepatnya pada Agustus 1945.

Namun ramalan Joyoboyo soal ini diragukan keasliannya. Joyoboyo hidup di tahun 1130 sampai 1157, sementara tanaman jagung baru dikenal pada sekitar tahun 1400-an.

*Pitik Tarung Sak Kandang
Ramalan ini sering dihubungkan dengan terjadinya peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 (G 30 S). Tujuh jenderal tentara angkatan darat dibunuh oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Dewan Jenderal.

Setelah peristiwa pembunuhan atas tujuh jenderal itu, berturut kemudian terjadi 'pembantaian' terhadap masyarakat yang diduga terlibat dalam organisasi terlarang. Mereka dibunuh dan dihukum tanpa vonis pengadilan.

Menurut Heri Priyatmoko, ramalan itu sebenarnya adalah isyarat dari para pujangga waktu itu agar masyarakat mewaspadai akan adanya ancaman disintegrasi atau perpecahan bangsa. Peristiwa disintegrasi hingga saat ini masih kerap terjadi. Meski dalam skala kecil. "Sekarang ini misalnya masih sering terjadi perkelahian antar organisasi masyarakat," kata Heri.

Disintegrasi inilah yang sering dikait-kaitkan dengan ramalan Joyoboyo, 'Pitik Tarung Sak Kandang'.

*Kodok Ijo Ongkang-ongkang
Ramalan Joyoboyo tentang 'Kodok Ijo Ongkang-ongkang' sering dihubungkan dengan kekuasaan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Saat itu Soeharto menggunakan Angkatan Bersenjata RI yang kebetulan menggunakan seragam berwarna hijau untuk melanggengkan kekuasaannya.

Ada juga yang mengartikan ramalan itu dengan kejayaan Islam. Seperti diketahui sejumlah negara Islam di jazirah Arab menggunakan bendera berwarna hijau.

*Tikus Pithi Anoto Baris
Heri Priyatmoko mengatakan, tikus pithi adalah simbol dari rakyat jelata yang memiliki angan-angan dan cita-cita untuk meraih mimpi. Namun mimpi itu tak pernah terwujud karena ulah para elite penguasa yang korup dan bertindak semaunya sendiri.

Akibatnya rakyat kecil ini kemudian bersatu mencari jalan untuk menentukan hidupnya sendiri. "Tikus pithi itu ibarat rakyat kecil yang selalu mempunyai harapan untuk meraih mimpi namun terhalang oleh perilaku korup dari elite politik. Maka kemudian mereka bersatu mencari jalannya sendiri untuk menggapai mimpi," kata Heri.

*Reinkarnasi Noyo Genggong Sabdo Palon
Noyogenggong dan Sabdo Palon ini adalah semacam tokoh Semar dalam lakon Mahabharata versi Jawa. Dalam versi Mahabharata India sosok Semar tak dikenal.

Noyogenggong, adalah simbol penasihat alias pendamping seorang raja yang dalam kisah pewayangan dikenal dengan Punokawan. Sebelum pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 banyak yang mengharapkan bahwa Joko Widodo adalah Ratu Adil seperti yang diramalkan oleh Joyoboyo.

Namun kemudian setelah setahun lebih kepemimpinannya tak menunjukkan bahwa Jokowi adalah Ratu Adil, masyarakat kemudian berharap bahwa Noyogenggong dan Sabdo Palon muncul sebagai penasihat raja.

Noyogenggong adalah simbol penasihat alias pendamping seorang raja yang dalam kisah pewayangan dikenal dengan Punakawan. "Noyogenggong dan Sabdo Palon berperan menasihati, mengkritisi dan menyentil juragannnya ketika melenceng. Ketika Ratu Adil mleto dan melenceng, muncullah Noyogenggong dan Sabdo Palon," kata sejarawan dan pengamat budaya dari Universitas Sebelas Maret, Heri Priyatmoko.>>>
Ref. Satu

Ramalan Adanya Virus Corona Menurut Jangka Jayabaya


WABAH Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 telah melumpuhkan dunia, tak terkecuali Indonesia. Tapi tahukah Anda bahwa kelumpuhan dunia, yang kemudian ternyata disebabkan oleh Covid-19, telah diramalkan oleh Jayabaya sembilan abad lampau?

Prabu Jayabaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmeswara Madhusudana Watarandita Parakrama Digjayottunggadewanama Jayabhayalancana adalah Raja Kediri, Jawa Timur, yang memerintah tahun 1135-1157. Jayabaya dikenal sebagai raja yang membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Jayabaya bukan sekadar raja, melainkan juga seorang pujangga dan peramal ulung di zamannya. Banyak perstiwa yang terjadi di dunia dan Indonesia yang kemudian terkait atau dihubung-hubungkan dengan ramalan atau “jangka” Jayabaya, termasuk dengan model “othak athik gathuk”.

Jayabaya adalah raja yang “waskita” atau tajam intuisinya, dan “weruh sakdurunge winarah” (tahu sebelum diajarkan). Kesaktian Jayabaya dalam meramal kemudian diteruskan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873), pujangga Kasunanan Surakarta, yang juga pujangga besar terakhir Tanah Jawa.

Sedikitnya ada sembilan ramalan Jayabaya yang dalam kacamata orang Indonesia, terutama Jawa, terbukti kebenarannya, seperti kemunculan kereta api, pesawat terbang, radio/televisi, suksesi kepemimpinan di Indonesia, di mana yang menjadi presiden adalah nama-nama yang di dalamnya ada suku kata “no to na go ro”, serta zaman edan yang kemudian ditulis Ranggawarsita dalam “Serat Kalatidha”.

Benarkah ramalan-ramalan Jayabaya, termasuk kelumpuhan dunia, terbukti kebenarannya? Wallahu a’lam bisawab, hanya Allah SWT yang maha tahu.

Local Wisdom

Jangka Jayabaya adalah “local wisdom” atau kearifan lokal masyarakat Indonesia, sebagaimana dunia barat yang lebih dulu maju dan modern masih mempercayai ramalan Michel de Nostredame atau Nostradamus (1503-1566), astrolog asal Perancis, Alvin Toffler (1928-2016), penulis dan futurolog asal Amerika Serikat, John Naisbitt (1929-sekarang), penulis dan futurolog asal AS, dan sebagainya. Soal terbukti kebenarannya atau tidak, sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu.

Jangankan jangka Jayabaya, ramalan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menggunakan metodologi ilmiah saja tidak selalu terbukti akurasinya, apalagi Jayabaya yang hanya mengandalkan ketajaman intuisi.

Soal kelumpuhan dunia, meski tidak disebut secara spesifik akibat pandemi Corona, konon hal tersebut sudah diramalkan Jayabaya akan terjadi pada tahun kembar, yakni 2020 yang angka-angkanya memang kembar.

Disebutkan, “sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu jamane langgar bubar, mesjid korat-karit, Kabah ora kaambah, begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha keluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga” yang artinya kurang lebih, “besok bila bertemu tahun kembar maka akan bertemu masanya surau atau musala bubar, masjid tidak teturus, Ka’bah tidak dikunjunjungi, penjahat lepas, manusia meninggal tidak diurus sebagaimana mestinya, rakyat kecil kelaparan, dan para pejabat/petugas bekerja sampai lupa keluarga”.

Memang, demi mencegah penyebaran virus Corona yang lebih luas, negara-negara yang terpapar menerapkan lockdown (penutupan wilayah) atau minimal physical distancing (jaga jarak fisik), social distancing (jaga jarak sosial) dan work from home (WFH). Adapun Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mensyaratkan physical/social distancing serta WFH tadi.

Efeknya, ibadah umat beragama tidak boleh dilaksanakan di musala, masjid, gereja, kelenteng, pura, wihara dan sebagainya, tetapi dilaksanakan di rumah masing-masing.

Arab Saudi juga menutup sementara Ka’bah atau Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta melarang ibadah umrah ke Ka’bah, termasuk jemaah dari Indonesia.

Begajul padha ucul? Untuk mencegah penularan virus Corona, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yasonna H Laoly membebaskan lebih dari 36 ribu narapidana dengan asimilasi dan integrasi. Sekeluar dari penjara, banyak yang mengulang kembali perbuatan jahatnya.

Kawula cilik padha keluwen? Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Ada yang menyebut korban PHK akibat Corona mencapai tujuh juta pekerja, termasuk yang dirumahkan.

Itu belum termasuk pekerja informal seperti pedagang kaki lima, sopir angkutan, tukang ojek, kuli bangunan dan sebagainya.

Akibatnya, rakyat kecil banyak yang kelaparan. Pemerintah kemudian membagikan bantuan sosial kepada masyarakat yang paling terdampak Corona.

Betapa banyak pula pejabat dan tenaga medis seperti dokter dan perawat yang tidak sempat menengok keluarganya gara-gara merawat pasien Corona, bahkan banyak yang meregang nyawa. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang merupakan sahabat penulis, dan Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto tak luput dari paparan Corona dan sempat dirawat di rumah sakit.

Ironisnya, bansos yang dibagikan pemerintah ada yang memicu kericuhan karena datanya amburadul dan banyaknya warga miskin yang tidak kebagian.

Ditambah dengan data kasus Corona yang simpang-siur antara versi pemerintah, kampus dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maka kepercayaan publik terhadap pemerintah nyaris ke titik nadir. Termasuk data asal-usul virus Corona, apakah sengaja diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, Tiongkok, atau berasal dari kelelawar dan trenggiling yang kemudian menjangkiti tubuh manusia dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Inilah yang oleh Jayabaya dan Ranggawarsita disebut “kalatidha” atau zaman keraguan. Tak ada yang bisa dipercaya.

Berkelindan dengan perilaku manusia yang kian tak terkontrol, maka zaman ini layak disebut zaman edan seperti digambarkan dalam bait ketujuh “Serat Kalatidha”, sebagai berikut:

“Amenangi jaman édan Mélu ngédan nora tahan
Yén tan mélu anglakoni boya kéduman
Begja-begjaning kang édan
Luwih begja kang éling klawan waspada.”

Artinya, “Berada pada zaman édan; kalau ikut édan tidak akan tahan; tapi kalau tidak ikut édan, tidak akan kebagian. Sebahagia-bahagianya orang yang édan, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.”

Alhasil, dalam menghadapi pandemi Corona, dan kelumpuhan dunia yang sudah dinisbatkan oleh Jayabaya ini, kita harus tetap ingat kepada Tuhan YME dengan berdoa memohon ampunan dan pertolongan-Nya, serta waspada dengan mematuhi aturan pemerintah terkait PSBB dan protokol kesehatan terkait Corona. Badai pasti berlalu.>>>


Ref :